Onomatopoeia Ternyata bisa Dipengaruhi oleh Budaya, loh!
☆ Henlooo, catlings ᓚ₍⑅^..^₎♡
Ketika disuruh menirukan suara kucing, orang Indonesia akan mengatakan "meong," orang Inggris "meow," orang Jepang "nyan," dan orang Korea Selatan "nyaong." Setiap budaya memiliki suaranya sendiri. Hmmm, kenapa bisa berbeda-beda, ya, bunyinya? Jadi, sebenarnya mana suara yang benar?
Hi hi, catlings!!! Kembali lagi dengan Litcat disini! Sesuai dengan postingan sebelumnya, kita akan membahas tentang Onomatopoeia lagi, nih. Tetapi kali ini, kita akan mendalami bagaimana budaya ini bisa memengaruhi Onomatopoeia, sehingga bunyinya tentu saja akan berbeda di setiap wilayah. Oh iya, disini Litcat banyak mengambil sumber dari jurnal ini, ya, catlings, karena kebetulan topiknya lumayan mirip dengan apa yang akan kita bahas disini. Yuk, kita belajar bersama!
Nah, jika kita telaah lebih jauh, Onomatopoeia ini berasal dari bahasa Yunani klasik, yaitu dari kata "onoma" yang berarti nama dan "poiein" yang berarti membuat. Jadi, Onomatopoeia dapat dikatakan sebagai penamaan benda atau perbuatan dengan meniru bunyi yang diasosiasikan dengan benda atau perbuatan itu. Lalu, jika catlings tahu, bahasa merupakan alat untuk menyampaikan sesuatu yang terlintas dalam hati, gagasan, pemikiran, dan perasaan, serta dapat mengidentifikasi seseorang dan mencerminkan karakteristik suatu budaya tertentu, loh.
Onomatopoeia ini karena merupakan salah satu bagian dari bahasa, jadi tentu saja karakteristiknya sama. Onomatopoeia memiliki sifat yang arbitrer, atau lebih jelasnya, hal ini merujuk kepada tiruan bunyi yang digunakan dalam satu bahasa belum tentu sama dalam bahasa lain. Pada setiap bahasa, tiruan bunyi yang digunakan adalah yang akan didengar. Namun, dalam bahasa lain, tiruan bunyi tersebut sulit diprediksi. Ini berkaitan dengan kesepakatan masyarakat bahasa di suatu wilayah. Dengan kata lain, Onomatopoeia di suatu tempat belum tentu memiliki penamaan atau makna yang sama dengan di tempat lain.
Ilmu linguistik memandang Onomatopoeia ini sebagai bunyi yang tidak selalu memiliki makna tetap. Setiap tiruan bunyi yang ada dalam setiap bahasa bergantung pada apa yang didengar oleh penutur asli, dan hal ini akan cukup sulit untuk diprediksi dalam bahasa lain. Nah, kenapa bisa terjadi, ya? Yuk, kita list satu persatu:
- Biasanya Onomatopoeia ini akan disesuaikan dengan kondisi sosial budaya dan lingkungan dari si penutur bahasa. Contohnya, jika suatu daerah banyak dikelilingi oleh pantai, maka Onomatopoeia juga sebagian besar akan berkaitan dengan pantai itu sendiri
- Setiap budaya memiliki caranya sendiri dalam mendengar dan menirukan suara, walaupun hal itu berasal dari sumber yang sama. Hal ini dapat dilihat dari contoh di atas, dimana suara dari kucing saja akan diinterpretasikan berbeda oleh setiap daerag
- Seperti yang telah disebutkan diatas, kata-kata Onomatopoeia ini biasanya merupakan hasil kesepakatan bersama dalam masyarakat yang biasanya kemudian akan mereprentasikan budaya mereka
- Banyak Onomatopoeia yang berasal dari cerita rakyat, lagu, atau tradisi lokal yang memperkuat hubungan antara suara dan budaya tertentu
- Variasi dialek juga dapat menyebabkan perbedaan dalam Onomatopoeia
Nah, kira-kira begitu, catlings, penjelasannya. Jadi, bahasa itu memang sesuatu yang kompleks dan biasanya terpapar oleh budaya masyarakat setempat, sehingga hal itu juga berpengaruh ke dalam Onomatopoeia. Jika catlings punya pertanyaan atau ingin diskusi lebih lanjut, boleh banget untuk berkomentar, ya!

Comments
Post a Comment